Apa yang Sebenarnya Kita Inginkan Dalam Hidup?
- eko wahyudi
- Mar 22, 2025
- 5 min read
Updated: Mar 28, 2025

Berbeda dengan pengobatan biasa yang fokus pada penyembuhan, palliative care lebih menekankan perawatan holistik—bukan hanya fisik, tetapi juga mental.
Bronnie Ware adalah seorang perawat Australia yang sudah bekerja bertahun-tahun di palliative care. Dia sudah berbicara dengan banyak pasien yang mengalami penyakit kritis bahkan ada yang hanya tinggal menunggu ajalnya.
Bronnie seringkali menanyakan ke para pasien mengenai apa penyesalan hidup mereka. Jawaban-jawaban ini kemudian dia tulis menjadi sebuah buku berjudul "The Top Five Regrets of Dying"

Jadi, Bronnie menemukan ada 5 hal yang paling sering disesali pasiennya di akhir hidup mereka:
"I wish I had the courage to live a life true to myself, not the life others expected of me."
Banyak pasiennya menyadari bahwa mereka menghabiskan hidup untuk memenuhi ekspektasi keluarga, masyarakat, atau norma sosial. Mereka memilih jalur "aman," mengikuti rencana yang sudah dibuat orang lain, dan mengabaikan impian mereka sendiri. Baru di akhir hidup mereka sadar bahwa kesempatan untuk menjadi diri sendiri sudah hilang—dan tidak bisa diulang.
"I wish I hadn’t worked so hard." Penyesalan ini paling banyak muncul dari pasien yang terlalu banyak mengorbankan waktunya untuk bekerja bukan bersama keluarga. Mereka sibuk mengejar, uang, promosi dan jabatan tetapi akhirnya sadar bahwa mereka menghabiskan terlalu sedikit waktu bersama keluarganya.
"I wish I had the courage to express my feeling." Banyak pasien yang menyesal karena sepanjang hidupnya mereka tidak berani mengungkapkan perasaan mereka. Mereka menutup rapat-rapat perasaan mereka karena takut disalahpahami, takut menyinggung, atau takut terlihat lemah. Akhirnya, mereka menjalani hidup dengan perasaan terpendam yang tidak pernah tersampaikan—baik itu dalam cinta, persahabatan, atau sekadar menyuarakan pendapat mereka sendiri.
"I wish I had stayed in touch with my friends." Di akhir hidupnya, para pasien sadar bahwa persahabatan lebih berarti dari yang mereka kira. Sayangnya kesibukan, pekerjaan dan rutinitas sering menjauhkan mereka dari teman-temannya. Mereka ingin sekali memutar waktu dan menghabiskan lebih banyak waktu bersama para sahabat berbagi suka duka.
"I wish I had let myself be happier." Banyak pasien berpikir bahwa kebahagiaan itu harus "ditunda" sampai mereka mencapai sesuatu—gaji tinggi, rumah besar, atau pencapaian tertentu. Tapi di akhir hidup, mereka sadar bahwa kebahagiaan adalah pilihan yang seharusnya bisa diambil kapan saja. Sayangnya, mereka terlalu lama hidup dengan kecemasan, tuntutan sosial, atau rasa takut, sehingga lupa untuk menikmati hidup yang sebenarnya.
Lalu bagaimana dengan uang?
Uang memang tidak disebutkan dalam daftar penyesalan ini. Tapi secara tidak langsung, uang berperan penting dalam bagaimana seseorang menjalani hidup dan akhirnya apa yang mereka sesali.
Banyak orang berpikir, "Kalau saya punya banyak uang, saya tidak perlu bekerja keras dan bisa menghabiskan lebih banyak waktu dengan keluarga." Itu memang masuk akal. Tetapi kenyataannya, banyak orang kaya tetap menyesal karena mereka tidak pernah merasa cukup dan terus terjebak dalam siklus kerja tanpa akhir.
Kenapa orang masih menyesal, meski sudah kaya?
Kita ambil contoh Andi. Dia miskin lalu mendapatkan pekerjaan yang bagus di luar negeri dengan gaji puluhan kali lipat. Menurut Kahneman dan Deaton, Andi akan bahagia. Kenapa?Karena Andi awalnya miskin.
Kebutuhan dasarnya tidak terpenuhi. dia kesulitan membayar sewa rumah dan membeli makanan. Ketika dia akhirnya mendapatkan pekerjaan dengan gaji naik puluhan kali lipat, hidupnya berubah drastis.
Stres akibat tidak memiliki uang berkurang drastis, dan dia bisa hidup dengan lebih nyaman. Dia jauh lebih bahagia.Tapi, apakah ini berarti Andi akan terus semakin bahagia jika gajinya naik lagi misal dari 50 juta menjadi 60 juta?
Menurut penelitian Kahneman dan Deaton, kebahagiaan yang berasal dari uang akan terus meningkat hingga kebutuhan dasar dan kenyamanan hidup tercapai. Namun, di titik tertentu, tambahan uang tidak lagi memberikan dampak signifikan pada kebahagiaan sehari-hari.
Jika gaji Andi yang sudah tinggi, naik dua kali lipat, maka kebahagian yang didapat tidak akan sekuat saat dia miskin lalu mendapat gaji puluhan lipat saat bekerja di luar negeri.
Nah ketika uang sudah tidak lagi menjadi masalah, kita tidak lagi memikirkan survival.
Sebaliknya, kita mulai memikirkan bagaimana mereka menggunakan waktu kita. Inilah mengapa banyak orang kaya tetap menyesal:
"Saya terlalu sibuk bekerja dan tidak sempat menghabiskan waktu bersama anak-anak."
"Saya mengejar karier, tapi kehilangan teman-teman."
"Saya selalu menunda kebahagiaan untuk masa depan, tapi ternyata kebahagiaan itu tidak pernah datang."
Di sinilah kita melihat bahwa yang benar-benar kita inginkan bukan sekadar uang, tapi kebebasan untuk menjalani hidup sesuai keinginan kita.
Contoh menarik adalah cerita Eminem.
Rapper legendaris ini pernah menolak tawaran tur dunia bernilai $100 juta dengan 50 Cent dan Snoop Dog. Alasannya?
50 Cent dalam sebuah wawancara mengatakan bahwa Eminem menolak kesempatan besar ini karena tidak ingin mengorbankan waktunya bersama Halie, putrinya.
Keputusan Eminem untuk menolak tur ini tidak datang begitu saja. Masa lalunya memainkan peran. besar dalam bagaimana ia memandang keluarga dan kebahagiaan.
Sejak kecil, Eminem tumbuh tanpa figur ayah. Ayahnya, Marshall Bruce Mathers Jr, meninggalkan keluarganya saat Eminem baru berusia 18 bulan. Seiring bertambahnya usia, Eminem mencoba menghubungi ayahnya dengan menulis surat. Tapi naas, surat itu dikembalikan tanpa pernah dibaca.
Dalam wawancara Eminem bahkan mengatakan bahwa dia tidak pernah melihat Ayahnya dan tidak ingin bertemu dengan sang ayah bahkan saat dia sudah terkenal.
Perlakuan ayahnya meninggalkan luka mendalam dan membuat dia berjanji bahwa dia tidak akan membiarkan putrinya, Hailie, merasakan hal yang sama. Ia ingin menjadi sosok ayah yang selalu hadir, sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan dari ayahnya sendiri.
Inilah alasan mengapa, meskipun tawaran tur dunia dengan bayaran $100 juta terdengar menggiurkan, Eminem tidak tergoda. Ia tahu bahwa waktu yang hilang bersama anaknya tidak akan bisa dibeli kembali, dan baginya, tidak ada jumlah uang yang cukup berharga untuk mengorbankan perannya sebagai ayah.
Keputusan ini sejalan dengan temuan Bronnie Ware: di akhir hidup, orang-orang tidak menyesali kurangnya uang, tetapi kurangnya waktu bersama orang-orang yang mereka cintai dan kurangnya kebebasan untuk hidup atas keinginan sendiri bukan hidup karena ekpektasi orang lain dan tekanan sosial.
Jadi Apa yang Sebenarnya Kita Inginkan Dalam Hidup?
Dari cerita Bronnie Ware dan Eminen sebenarnya ada pola yang jelas tentang apa yang benar-benar diinginkan orang dalam hidup. Bukan cuma uang atau status, tapi lebih kepada kualitas hidup.
Dalm hidup kita ingin:
Menjadi diri sendiri tanpa tekanan sosial
Menghabiskan waktu dengan orang yang kita sayangi
Mengekspresikan perasaan tanpa takut.
Menjaga hubungan baik dengan orang-orang disekitar kita.
Merasakan kebahagiaan tanpa harus menunggu 'momen yang tepat
Memiliki kebebasan.
Hidup itu seperti naik kereta. Kita sibuk dan fokus pada tujuan akhir—jabatan, kekayaan dan status sosial. Kita tidak sadar bahwa pemandangan indah ada di sepanjang perjalanan bukan hanya di stasiun terakhir.

Tapi kita terus mempercepat laju, berpikir nanti akan ada waktu untuk menikmati semuanya. Sampai akhirnya, kita sadar kereta sudah sampai di ujung jalur, kereta sudah sampai di stasiun terakhir dan tidak ada cara untuk kembali.
Bukan uang yang kita sesali, tapi waktu yang tidak bisa dibeli saat uang sudah kita miliki.




Comments