top of page

Apakah Afirmasi Positif Berpengaruh Kepada Otak Kita dan Kepada Diri Sendiri ?

  • Writer: eko wahyudi
    eko wahyudi
  • Oct 28
  • 2 min read
ree

Dalam eksperimen ini para peserta diminta mengucapkan kalimat

"I am a lovable person"

Selama 4 menit setiap 15 detik sembari menuliskan perasaaan dan pikiran mereka. Lalu bagaimana hasilnya?


Nah, dalam eksperimen Dr. Wood, para peserta dibagi menjadi dua kelompok: mereka yang memiliki self-esteem rendah dan mereka yang memiliki self-esteem tinggi.

Hasilnya mengejutkan.


Peserta dengan self-esteem rendah yang mengulang-ulang "I am a lovable person" justru merasa lebih buruk setelahnya. Mood mereka menurun dan skor self-esteem mereka bahkan turun, dibandingkan dengan peserta yang tidak mengulang kalimat itu sama sekali.


ree

Lalu bagaimana dengan peserta dengan self-estem tinggi? Mereka memang merasa sedikit lebih baik, tapi peningkatannya tidak begitu kuat.


Kenapa ini terjadi?


Sekarang coba bayangkan Anda hendak melakukan sebuah presentasi penting. Puluhan mata akan menjadi saksi mulai dari rekan kerja hingga atasan.


Sebelum memulai presentasi, Anda berdiri di depan cermin dan berkata pada diri sendiri: "Saya sangat percaya diri. Saya pembicara yang hebat."


Tapi ada hal lain yang terjadi di kepala Anda.

"Suara kecil di dalam hati mulai berbisik: "Bohong. Kemarin saja presentasimu gagal. Kamu pasti akan lupa poin-poin penting lagi. Mereka akan melihatmu gemetar."

Ketika ada jarak yang terlalu besar antara afirmasi positif yang Anda ucapkan dan keyakinan yang sebenarnya Anda miliki tentang diri sendiri, otak Anda akan menolaknya.


Alih-alih merasa lebih baik, Anda justru semakin menyadari betapa "tidak benarnya" kalimat yang Anda ucapkan.


Ibarat sedang berdebat dengan seseorang—pernahkah Anda berhasil mengubah pikiran seseorang dengan cara berargumen keras? Yang terjadi justru mereka semakin bertahan pada pendapat mereka, bukan?


Begitu juga dengan otak Anda. Semakin Anda memaksakan afirmasi yang tidak Anda percayai, semakin keras otak Anda "melawan balik" dengan pikiran-pikiran negatif.


Jika Anda pernah gagal dalam presentasi lalu Anda meyakinkan diri Anda jika presentasi kali ini akan berhasil, maka akan bentrok disana. Afirmasi bisa jadi tidak berguna.

ree

Sekarang skenarionya kita ubah.


Anda masih akan presentasi. Tapi di presentasi bulan lalu Anda berhasil. Semua orang mengerti apa yang Anda bicarakan. Mereka kagum dan suka dengan presentasi Anda yang jelas dan mudah dimengerti.


Kali ini sebelum memulai presentasi Anda memberikan afirmasi positif.

"Presentasi bulan lalu berhasil karena saya adalah orang yang bisa menjelaskan ide kompleks dengan sederhana. Saya bisa melakukannya lagi."

Apa yang berbeda?


Kali ini, otak Anda tidak melawan balik. Kenapa? Karena ada BUKTI NYATA yang mendukung pernyataan Anda. Anda PERNAH berhasil. Anda TAHU kualitas apa yang membuat Anda berhasil.


Di kasus ini afirmasi positif bekerja lebih baik walaupun penelitian membuktikan jika dampaknya tidak sebesar itu.

Sekarang ke pertanyaan apakah afirmasi positif berpengaruh kepada otak kita dan kepada diri sendiri ?


Tergantung.


Jika Anda menggunakan afirmasi untuk meyakinkan diri tentang sesuatu yang jauh dari kenyataan Anda saat ini—seperti "Saya sangat sukses" ketika Anda merasa gagal total—maka jawabannya TIDAK. Bahkan bisa membuat Anda merasa lebih buruk.


Tapi jika Anda menggunakan afirmasi dengan cara yang tepat dimana Anda meyakinkan diri Anda mampu dan berhasil karena Anda memang dan mampu dan pernah berhasil, maka jawabannya YA—dan efeknya terbukti secara ilmiah.

Comments


© 2024

bottom of page