top of page

Bagaimana Seharusnya Kita Menjalani Hidup ini?

  • Writer: eko wahyudi
    eko wahyudi
  • Aug 30, 2025
  • 4 min read

Google, salah satu perusahaan terbesar di dunia yang produknya kita pakai setiap hari memiliki sebuah target untuk karyawannya.


Google ingin karyawannya lebih rajin ke gym. Ya, Anda tidak salah dengar. Sebuah perusahaan teknologi ingin karyawannya lebih rajin berolahraga bukan lebih rajin bekerja apalagi lembur.


Untuk melakukan ini, Google ingin tahu, bagaimana caranya agar karyawan mereka rajin ke gym? Apa yang harus dilakukan? Apakah cukup dengan memberikan semangat dan perintah?


2500.


Ini adalah jumlah karyawan Google dari berbagai cabang Google di Amerika yang dilibatkan dalam sebuah penelitian.[1]


Apa tujuan penelitian ini?


Peneliti ingin tahu bagaimana membuat kebiasaan olahraga yang benar-benar bertahan lama.


Mereka tidak mau karyawannya hanya semangat di awal tahun lalu berhenti di bulan Februari. Mereka ingin kebiasaan yang bertahan lama dan yang menjadi bagian dari hidup[2]


Dan eksperimen pun dimulai.

Para peserta dibagi menjadi dua kelompok:

Kelompok 1:Orang-orang dalam kelompok ini DIBAYAR untuk berolahraga di jam yang SAMA setiap hari. Misalnya: Harus gym jam 6 pagi, setiap hari, tidak boleh geser. Prinsip dasarnya adalah Rutinitas ketat menciptakan kebiasaan kuat.
Kelompok 2:Dibayar juga, tapi lebih rendah dari kelompok 1. Tapi mereka diberikan fleksibilitas dalam berolaharaga. Mereka boleh berolahraga kapan saja. Jika hari ini olahraga jam 8 pagi dan besok jam 10 pagi, tidak masalah. Mereka akan tetap dibayar. Prinsip dasarnya? Yang penting olahraga, tidak peduli jamnya.

Penelitian berlangsung selama 1 bulan penuh. Tapi Google tidak berhenti di situ. Mereka terus memantau selama 40 minggu kemudian — hampir setahun!—ntuk melihat kebiasaan mana yang benar-benar bertahan.


Asumsi awalnya adalah, kelompok 1, alias kelompok dengan rutinitas ketat, akan lebih rajin berolahraga. Ini karena Rutinitas adalah kunci. Konsistensi adalah raja. Same time, same place, every day.


Tapi saat akhirnya data keluar, peneliti terkejut. Asumsi mereka salah.


Apa yang sebenarnya terjadi?


Kelompok 1 memang paling rajin berolahraga. Tapi ada satu masalah besar.

Mereka berubah menjadi robot. Jika tidak bisa datang di jam 6 pagi karena meeting mendadak, anak sakit, atau macet? Mereka tidak datang sama sekali.


"Ah sudahlah, hari ini gagal. Besok saja." Google tanpa sengaja menciptakan "orang yang terjebak dalam kesempurnaan rutinitas. Sempurna atau tidak sama sekali.


Lalu kelompok dua?

Mereka mengembangkan SKILL yang jauh lebih berharga: Kemampuan problem-solving.

  • Meeting pagi? "Olahraga siang saja"

  • Siang ada deadline? "Ya sudah, malam sebelum pulang"

  • Malam ada acara? "Besok pagi saya double session"

Mereka belajar bernegosiasi dengan hidup. Mereka belajar beradaptasi. Dan yang paling penting: Mereka tetap berolahraga.


Sekarang mari kita geser konteksnya dari gym ke tempat kerja.


Sebuah penelitian melibatkan 607 karyawan tetap dimana mereka terbagi dalam dua jam kerja—Fixed dan fleksibel.[3]


Fixed artinya jam kerja tetap. Misalnya mereka harus bekerja dari jam 8 sampai jam 4 setiap hari.


Fleksibel artinya jam kerja mereka bisa diatur sendiri—selama target kerja terpenuhi, mereka bebas memilih kapan mulai dan kapan selesai.


Penelitian ini ingin tahu: Apakah jadwal kerja yang fleksibel membuat karyawan lebih bahagia dan lebih produktif—baik di kantor maupun di rumah?


Hasilnya menarik.


Ternyata, fleksibilitas kerja berdampak besar pada dua hal:

1. Mengurangi konflik antara kerja dan keluarga.

2. Meningkatkan rasa puas dalam pekerjaan dan kehidupan rumah tangga.


Karyawan dengan jadwal fleksibel lebih mampu menyesuaikan diri dengan tuntutan hidup. Misalnya, kalau ada anak yang sakit, mereka bisa geser jam kerja ke malam. Kalau pagi sedang sibuk urusan rumah, mereka bisa kerja siang.


Sama seperti kelompok gym yang fleksibel tadi, mereka punya kebebasan untuk bernegosiasi dengan hidup.


Tapi bukan ini yang paling menarik dari penelitian ini.

Istri saya saat ini bekerja sebagai seorang sales dan marketing.

Tempat kerjanya hanya 15 menit dari rumah. Dan pekerjaan ini pun bisa dibilang pekerjaan yang bagus. Tapi bukan karena gajinya.


Sekitar dua hari yang lalu di lingkungan kami ada warga yang meninggal dunia. Dalam adat Bali, jika ada orang meninggal, maka akan dilakukan prosesi yang disebut ngaben.


Orang yang meninggal tersebut akan diantar ke kuburan dengan diantar oleh warga sekitar. [4]


Adalah aturan adat bagi warga untuk ikut mengiringi.


Saat itu istri saya mendapat tugas khusus membawa sebuah sajian. Tapi ini dilakukan tepat di jam kerja.


Dengan mudah istri saya bisa pulang, minta ijin sebentar ke direkturnya. Setelah acara selesai, dia bisa kembali ke kantor bekerja,


Ini sudah terjadi beberapa kali. Istri saya bisa dengan mudah ijin untuk melakukan upacara adat. Waktu yang dipakai bisa dibayar nanti dengan pulang lebih telat.

Temuan dari penelitian diatas adalah perempuan mendapat manfaat LEBIH BESAR dari fleksibilitas kerja dibandingkan laki-laki.


Kenapa? Karena perempuan seringkali menghadapi "double shift" - bekerja di kantor, lalu pulang untuk shift kedua mengurus rumah tangga. Dengan fleksibilitas, mereka bisa menyeimbangkan kedua dunia ini dengan lebih baik.


Lalu bagaimana seharusnya kita menjalani hidup?


Berkaca dari penelitian diatas, maka jawabannya sederhana: Jalani hidup dengan fleksibilitas. Jangan kaku!


Jika misal Anda ingin terbiasa membaca, maka tidak perlu keras ke diri sendiri dengan mengatakan

"Aku harus baca buku saat baru bangund dari tidur"

Tapi lebih baik berusaha fleksibel

"Aku akan baca setiap hari saat ada waktu entah itu pagi sambil ngopi, siang pas istirahat, atau malam sebelum tidur."

Prinsip dalam menjalani hidup itu sederhana:

Tentukan TUJUAN dengan jelas, tapi biarkan CARANYA fleksibel.

Penelitian Google membuktikan: Yang bertahan bukanlah kebiasaan paling sempurna, tapi kebiasaan paling adaptif.


Karena hidup tidak akan selalu berjalan sesuai rencana. Akan terjadi hal-hal di luar dugaan yang bisa mengacaukan segalanya.


Jalani hidup dengan melihat google maps, tapi siap-siap mencari jalan lain jika ternyata jalan yang kita lewati macet atau ditutup karena ada pernikahan warga yang mengambil badan jalan.


Hidup harusnya seperti air—mengalir ke berbagai arah, tapi punya tujuan jelas: laut.

Catatan Kaki

Comments


© 2024

bottom of page