Begini Cara Kerja Otak Kita Menurut Psikologi Yang Banyak Orang Tidak Sadari
- eko wahyudi
- Jul 6, 2024
- 3 min read

Coba bayangkan Anda baru saja bangun. Salah satu kebiasaaan Anda saat baru bangun adalah membuat secangkir kopi hitam panas untuk dinikmati sembari pagi membuka diri.
Karena sudah terbiasa melakukan ini, maka proses membuat kopi berjalan sempurna, tanpa Anda sadari.
Tapi suatu hari, Anda ingin mencoba minum Kopi latte. Anda baru saja belajar membuat minuman ini dari video diYoutube dan tidak sabar ingin membuatnya dan menikmatinya untuk memulai hari.
Tapi proses membuat kopi latte ini tidak bisa berjalan otomatis sebagaimana anda membuat kopi hitam panas. Ini karena Anda tidak terbiasa membuat kopi latte.
Jadi proses pembuatan kopi latte memerlukan fokus penuh dan perhatian khusus.
Proses membuat kopi hitam dan kopi latte ini bisa menggambarkan bagaimana cara kerja otak manusia dalam kaitannya dengan psikologi.
Menurut Kahneman dalam bukunya "Thinking Fast and Slow", otak kita terbagi menjadi 2 sistem:
Sistem 1 atau berpikir cepat dan sistem 2 atau berpikir lambat.

Contoh kegiatan yang menggunakan sistem 1 adalah mengemudi mobil di jalan yang sepi atau ketempat kerja, membaca papan iklan besar di jalan, atau menyelesaikan penjumlahan 1+4=…. Kegiatan-kegiatan ini dilakukan secara otomatis dan tidak memerlukan banyak usaha atau konsentrasi. Anda melakukannya tanpa berpikir keras, seperti membuat kopi hitam tadi.
Di sisi lain, contoh kegiatan yang menggunakan sistem 2 adalah mengerjakan soal Matematika yang rumit, merencanakan liburan atau belajar memainkan alat musik.
Kegiatan ini memerlukan perhatian penuh, seperti ketika Anda mencoba membuat kopi latte.
Anda harus berpikir keras, mengambil keputusan, dan mengikuti langkah-langkah tertentu dengan hati-hati.
Sistem 1 juga bisa dikatakan sebagai insting sedangkan sistem 2 adalah adalah logika atau pemikiran yang lebih mendalam. Sistem 1 membantu kita bertindak cepat dan efisien dalam situasi yang kita biasa hadapi. Sementara sistem 2 digunakan ketika kita menghadapi tantangan baru atau perlu memecahkan masalah yang kompleks.
Namun sistem 1 sering salah terutama jika yang seharusnya digunakan adalah sistem 2.
Perhatikan gambar dibawah ini:

Gambarnya sederhana. Dua buah garis dimana jika kita lihat sekilas, garis yang dibawah lebih panjang dari garis yang diatas.
Tapi benarkah?
Ini disebut Müller-Lyer illusion dan 2 garis diatas, panjangnya sama.
Tapi kenapa sekilas terlihat memiliki panjang yang berbeda? Ini karena sistem 1 mengambil kesimpulan hanya dengan melihat sekilas. Sistem 1 mengandalkan intuisi dan pola yang telah dipelajari. Tapi dalam kasus ini, sistem 1 malah menyesatkan.
Namun ketika kita menggunakan sistem 2, kita akan mengukur kedua garis tersebut dan menyadari bahwa keduanya sama panjang. Sistem 2 membutuhkan waktu dan tenaga lebih untuk menganalisis informasi secara logis yang kemudian memperbaiki kesalahan yang dibuat oleh sistem 1.
Jadi salah satu kesalahan kita sebagai manusia adalah menggunakan sistem 1 dimana yang seharusnya menggunakan sistem 2. Menurut Kahneman, bias atau pemikiran tidak rasional itu sering terjadi di sistem 1.
Contoh sederhana adalah ini:

Harga produk tersebut adalah Rp17.500 rupiah dan diskon 50% dari awalnya Rp35.000. Jika kita menggunakan sistem 1, kita akan cenderung berpikir jika harga ini murah dan mungkin langsung membeli.
Tapi jika kita gunakan sistem 2, kita mungkin akan mencari tahu di tempat lain: berapa harga produk ini. Apakah benar Rp 35.000 atau memang aslinya Rp 17.500?
Dalam psikologi ini disebut ANCHORING EFFECT. Sistem 1 akan membuat kita terdampak Anchoring Effect sedangkan jika kita menggunakan sistem 2, kita akan lebih kritis dan mencari tahu berapa harga asli produk tersebut dan tidak langsung membeli.

Jika otak kita ibaratkan sebuah mobil, maka sistem 1 adalah seorang pengemudi yang selalu mengemudi dengan cepat mengandalkan insting dan pengalaman mengemudinya. Tapi kadang kita berada di sebuah jalan yang tidak kita kenali dan kita butuh navigasi yang akurat bukan sekedar insting.
Jadi yang dilakukan adalah, minta sistem 1 melepaskan kemudi dan duduk di kursi penumpang lalu meminta sistem 2 untuk mengambil kendali.
Meminta sistem 1 untuk mengemudi di jalan yang kita tidak kenal tentu lebih beresiko. Maka dari itu, kita perlu meminta sistem 2 yang berpikir pelan untuk mengemudi agar kita selamat sampai tujuan.
Dua sistem berpikir ini merupakan konsep yang sangat menarik dan mampu membuat kita memahami cara kerja otak kita lebih baik.
Ini sangat berguna dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya dalam konflik, sistem 1 mungkin akan membuat kita untuk cenderung bereaksi secara emosional dan cepat.
Ini bisa menyebabkan kesalahpahaman dan memperparah masalah. Namun, jika kita menggunakan sistem 2, kita dapat berpikir lebih rasional, mempertimbangkan perspektif lain, dan pelan-pelan mencari solusi.
Pengetahuan tentang Sistem 1 dan Sistem 2 juga sangat bermanfaat dalam parenting. Sebagai contoh, ketika anak Anda bertindak nakal, respons otomatis (Sistem 1) mungkin adalah marah dan menghukumnya segera.

Namun, dengan memikirkan situasi dengan lebih mendalam (Sistem 2), Anda mungkin menemukan cara yang lebih baik dan efektif selain marah-marah.
Referensi:



Comments