Buku adalah Jendela Dunia. Tapi Bukan Itu Alasan Kenapa Membaca itu Baik
- eko wahyudi
- Dec 11, 2024
- 2 min read
Updated: Mar 28, 2025

Coba kita bandingkan dua kegiatan: Membaca buku dan menonton. Perbedaannya tentu jelas: yang satu medianya adalah buku satu lagi TV.
Yang satu menggunakan indra penglihatan dan satunya lagi menggunakan indra pendengaran dan penglihatan.
Apa lagi bedanya? Ada hubungannya dengan kemampuan kita berimajinasi.

Lebih dari 200 orang dewasa ikut dalam penelitian ini. Mereka diminta untuk membaca teks dan menonton film.
Setelah itu, mereka diminta melakukan sebuah tugas mental yaitu menghayal. Salah satu hayalannya adalah membandingkan mana yang lebih berkilau antara trompet dan seruling.
Hasilnya?
Peserta yang membaca memiliki khayalan yang lebih baik dan akurat dibanding peserta yang menonton.
Penelitian ini menunjukkan bahwa ketika kita membaca, otak kita bekerja lebih keras untuk menciptakan gambar mental dari kata-kata, sedangkan menonton memberikan visual yang sudah jadi, yang justru "mematikan" imajinasi.
Dari sini kita bisa simpulkan jika membaca itu membuat kita berimajinasi.
Tapi sekarang yang jadi pertanyaan, kenapa berimajinasi itu penting? Kita akan lihat dari sudut pandang sebuah cara berpikir yaitu counterfactual thinking.
Coba bayangkan kamu baru saja menerima pekerjaan di sebuah perusahaan. Sebelum kamu menerima pekerjaan ini, kamu mendapat tawaran di perusahaan lain. Tapi kamu pilih bekerja di perusahaan ini karena alasan tertentu.
Namun, sesaat setelah kamu menerima pekerjaan itu, kamu mulai berpikir, "Bagaimana jika aku mengambil pekerjaan di perusahaan lain? Apakah hidupku akan lebih baik?" Pikiran seperti ini disebut counterfactual thinking, atau berpikir tentang kemungkinan alternatif dari sebuah peristiwa yang sudah terjadi.
Ketika kita membayangkan skenario alternatif dari sebuah kejadian yang sudah terjadi, maka otak kita sebenarnya belajar dari kesalahan yang kita buat atau merenungkan kembali keputusan yang kita ambil.
Misalnya, jika kamu membayangkan bahwa menerima pekerjaan lain mungkin akan memberikan gaji yang lebih besar, maka di masa depan kamu bisa lebih berhati-hati dalam menimbang keputusan.
Secara umum counterfactual thinking bekerja dalam dua jalur:
Jalur Spesifik: Pikiran ini memberikan pelajaran langsung. Misalnya, kamu belajar bahwa meneliti lebih dalam tentang suatu perusahaan sebelum menerima pekerjaan adalah langkah yang penting.
Jalur Umum: Pikiran ini memengaruhi suasana hati, motivasi, atau pola pikir. Misalnya, meskipun kamu menyesal, kamu juga bisa merasa bersyukur atas apa yang kamu miliki sekarang.
Lalu apa kaitannya dengan membaca?
Seperti yang ditemukan pada penelitian diatas, membaca melatih imajinasi kita. Imajinasi merupakan komponen penting dari counterfactual thinking.

Dengan imajinasi yang kuat, kita lebih mampu memikirkan skenario alternatif, menemukan solusi, mengambil keputusan yang lebih baik dan bahkan merasa lebih bersyukur atas keputusan yang telah kita ambil.
Inilah menurut saya kenapa buku itu lebih dari sekedar jendela dunia dan membaca lebih dari sekedar melihat dari jendela tersebut.

Membaca adalah latihan untuk otak dan jiwa. Untuk otak karena mampu merangsang kita untuk berimajinasi. Untuk jiwa karena dengan imajinasi, kita akan mampu menempatkan diri dalam situasi berbeda. Situasi yang mungkin tidak terpikirkan sebelumnya.



Comments