Gajah Adalah Kenapa Konten Emosional Lebih Menarik
- eko wahyudi
- Jul 20, 2024
- 2 min read
Salah satu lagu Indonesia favorit saya adalah Gajah oleh Tulus. Lagu ini selain enak didengar juga mengingatkan saya akan konsep otak dari sebuah buku. Adalah Jonathan Haidt dalam bukunya The Happiness Hypothesis yang menganalogikan otak kita sebagai gajah dan penunggangnya. Gajah adalah sisi emosional dan penunggang adalah sisi rasional.
Mana yang lebih kuat? Bayangkan situasi di mana penunggang ingin mengikuti jalur tertentu, tetapi gajah memiliki ide lain. Meskipun penunggang tampak berada di atas dan memegang kendali, ketika terjadi ketidaksepakatan, gajah yang kuat dan penuh emosi seringkali menang.
Jadi gajah lebih kuat.

Ini berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari. Misal jika kamu ingin bangun pagi karena tidak mau telat kerja, ini adalah sisi rasional alias penunggang.
Tapi ketika alarm berbunyi, rasa nyaman di kasur membuatmu menekan tombol snooze dan kembali tidur. Itu gajah yang bekerja. Emosi yang mencari kenyamanan instan mengalahkan niat rasional untuk bangun lebih awal.
Gajah memang cenderung lebih kuat dan dominan. Ini dibuktikan oleh eksperimen bernama IOWA Gambling task.
Dalam eksperimen ini, peserta memilih kartu dari empat dek yang memiliki hadiah dan penalti yang berbeda.
Dua dek menawarkan hadiah yang menarik tapi resikonya juga tinggi.
Dua dek lain menawarkan hadiah dengan nilai rendah tapi resikonya juga rendah.

Pada awalnya, peserta sering memilih dari dek berisiko tinggi karena tertarik oleh hadiah instan yang besar. Ini adalah gajah yang bekerja. Tapi setelah sekian lama, peserta mulai memilih dek dengan resiko rendah, bermain aman. Ini adalah penunggang gajah yang melakukan analisa dan menghindari resiko.
Jadi gajah memang lebih dominan dan butuh waktu bagi si penunggang untuk mengendalikan gajah.Analogi gajah dan penunggang ini erat kaitannya dengan kenapa konten emosional lebih laku dibanding konten edukatif dan ilmiah.
Konten emosional memiliki sisi emosional seperti sedih, rasa marah, senang dan bahagia. Emosi ini menarik perhatian gajah dalam diri kita. Membuat kita lebih tertarik dan terhubung secara emosional.

Konten emosional, dengan segala dramanya, menawarkan kepuasan instan berupa emosi atau hiburan yang langsung menarik minat pembaca. Ini mirip dengan bagaimana peserta Iowa Gambling Task awalnya tertarik oleh hadiah instan dari dek berisiko tinggi. Mereka mencari cerita yang bisa mereka rasakan, yang berbicara langsung kepada gajah dalam diri mereka.
Sebaliknya, konten edukatif ilmiah lebih mengandalkan sisi rasional audiens kita. Audiens butuh waktu dan tenaga lebih untuk memahami konten yang bersifat ilmiah atau yang memberi ilmu. Ini mirip dengan bagaimana peserta pada eksperimen Iowa Task akhirnya memilih dek dengan resiko rendah setelah sebelumnya memilih dek dengan resiko tinggi.
Ini secara tidak langsung bisa menjadi pelajaran berharga.
Jika kamu punya konten yang bersifat ilmiah atau memberi ilmu, maka sentuh juga sisi emosional pembaca, sentuh gajah mereka.

Caranya? Salah satunya hubungkan dengan cerita atau contoh yang kita alami sendiri. Ingat, meskipun sang penunggang lebih rasional, gajah memiliki ukuran dan tenaga yang lebih besar yang membuatnya lebih mudah menentukan arah.



Comments