top of page

Satu Alasan Kenapa TikTok Berbahaya.

  • Writer: eko wahyudi
    eko wahyudi
  • Dec 8, 2024
  • 2 min read

Updated: Dec 8, 2024



Misalnya, mengingat untuk memasukkan mantel ke dalam motor sebelum berangkat kerja atau mengirim agenda rapat ke grup Whatsapp setelah rapat selesai.


Secara umum, PM atau prospective memory terbagi menjadi dua:

  • Time-based prospective memory, yaitu ingatan untuk melakukan sesuatu pada waktu tertentu, seperti mengingat untuk menjemput anak pada pukul 3 sore.

  • Event-based prospective memory, yaitu ingatan untuk bertindak saat suatu peristiwa terjadi, seperti mengingat untuk memberikan dokumen saat bertemu dengan seseorang.



  1. Mereka akan diberikan beberapa kata lalu menentukan apakah kata-kata tersebut memang ada di kamus (bahasa jerman) atau hanya kata yang dibuat-buat dengan menekan tombol: tombol "N" untuk kata kata-kata yang memang ada dan tombol "M" untuk kata-kata yang dibuat-buat alias tidak ada artinya.


  2. Dalam tugas kedua, mereka akan diberikan tugas untuk mengingat kata-kata khusus yang muncul di layar komputer.


Setelah setengah tugas selesai, peserta diberi waktu istirahat selama 10 menit dan diminta untuk melakukan salah satu dari empat aktivitas: istirahat, menggunakan TikTok, menonton YouTube, atau scroll Twitter.


Hasilnya?



Peserta yang menggunakan TikTok mengalami penurunan kemampuan prospective memory secara signifikan.


Mereka cenderung melupakan kata-kata yang harus diingat dan salah menekan tombol di tugas pertama.


Dengan kata lain, setelah menggunakan TikTok, daya ingat menurun.


Sebaliknya, peserta yang menonton YouTube atau menggunakan Twitter tidak menunjukkan penurunan daya ingat yang signifikan.


Kenapa ini terjadi?


Menurut tim peneliti, konten TikTok yang berdurasi pendek adalah penyebabnya. Karena konten TikTok cenderung pendek/durasi singkat, maka otak pengguna dipaksa untuk beradaptasi dengan pergantian informasi yang sangat cepat.



Setiap video membawa cerita, visual, dan konteks baru dalam hitungan detik, sehingga otak terus-menerus "melompat" dari satu fokus ke fokus berikutnya tanpa waktu untuk memproses secara mendalam.


Kombinasi ini (durasi pendek dan pergantian konten yang cepat) kemudian membuat otak lelah dan kurang mampu mempertahankan ingatan jangka pendek untuk tugas yang harus dilakukan.


Berbeda, dengan Youtube, durasi kontennya cenderung lebih lama (kecuali Shorts) sehingga pengguna tidak mengalami pergantian konteks yang seintens dan secepat TikTok.

Ini kemudian mengakibatkan PM (Prospective Memory) melemah.


Apa yang terjadi jika prospective memory melemah?


Jika PM melemah, maka kemampuan kita untuk mengingat tugas akan menurun. Kita bisa lupa melakukan hal-hal penting seperti lupa mengumpulkan laporan, mengerjakan PR dll.

Ini semua karena konten TikTok yang pendek dan cepat berganti.


Sekarang yang jadi pertanyaan, bagaimana dengan Instragram Reels dan Youtube Shorts? Bukan dua sosial media ini kontennya juga pendek-pendek?

Jika merujuk dari penelitian diatas, tentu bisa kita asumsikan jika Instagram Reels dan YouTube Shorts, yang memiliki format serupa dengan TikTok, dapat memberikan efek yang hampir sama pada prospective memory.


Walaupun penelitian ini tidak secara spesifik menggunakan konten dari Instagram Reels atau YouTube Shorts, kita dapat menarik kesimpulan awal bahwa platform ini kemungkinan memiliki dampak negatif yang serupa, terutama karena desainnya yang mirip dengan TikTok.


Jadi apa bahayanya bermain TikTok?


Ingatan, terutama prospective memory akan melemah, sebagaimana efek yang juga dihasilkan menggunakan sosial media lain seperti Instagram Reels dan Youtube Shorts mengingat format konten kedua platform itu sama dengan TikTok.


Jadi bukan hanya TikTok yang memiliki dampak negatif.

Comments


© 2024

bottom of page