Kenapa Film Horor Terasa Horor?
- eko wahyudi
- Jun 28, 2024
- 2 min read

Ada sebuah penelitian menarik dimana para peneliti ingin melihat bagaimana musik mempengaruhi persepsi dan emosi kita terhadap sebuah film.
Penelitian ini melibatkan dua kelompok:
Kelompok pertama yang terdiri dari 118 peserta diminta menonton adegan film yang sama tapi dengan musik yang berbeda yaitu melankolis, cemas dan hanya suara latar biasa datar. Peneliti kemudian mengukur empati, kepribadian dan bagaiman peserta menebak adegan selanjutnya dari adegan dalam film tersebut.
Lalu pada kelompok kedua, 98 orang dilibatkan dimana para peneliti menggunakan alat pelacak mata untuk melihat reaksi mereka saat mendengar suara yang berbeda.Lalu bagaimana hasilnya?
Untuk kelompok pertama, yang menonton adegan film dengan berbagai jenis musik:
Musik Melankolis: Peserta yang mendengarkan musik melankolis menunjukkan peningkatan empati sebesar 16%. Mereka juga melihat karakter utama sebagai orang yang lebih baik dan introvert, serta merasakan lingkungan menonton mereka sebagai tempat yang lebih nyaman.
Musik Cemas: Musik cemas, di sisi lain, menurunkan tingkat empati peserta sebesar 10-15%. Peserta juga mempersepsikan karakter utama dengan pandangan negatif dan lebih memperhatikan detail-detail kecil dalam adegan, seperti adanya karakter tersembunyi.
Suara Latar Datar: Musik latar biasa tidak memiliki dampak emosional yang signifikan, sehingga peserta menunjukkan reaksi yang lebih netral.

Nah, untuk kelompok kedua dimana menggunakan alat pelacak gerak mata, hasilnya sebagai berikut:
Musik Cemas: Musik cemas menyebabkan pupil peserta melebar dan mereka lebih banyak menghabiskan waktu memeriksa elemen-elemen kecil yang kurang terlihat dalam adegan. Ini menunjukkan bahwa musik cemas meningkatkan kewaspadaan dan membuat peserta lebih fokus.
Musik Melankolis dan Suara Latar: Musik melankolis dan suara latar datar tidak menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam reaksi pupil atau pola pelacakan mata, menunjukkan respons yang lebih tenang dan fokus pada elemen-elemen utama dalam adegan.
Apa yang dapat disimpulkan dari penelitian ini?
Musik mempengaruhi cara kita merasakan dan memahami adegan film.
Penelitan lain menemukan fakta menarik pada suara jeritan atau mirip jeritan dalam film horror. Dikatakan bahwa suara jeritan sering digunakan dalam film horror karena suara jeritan secara alami diidentifikasi sebagai sinyal bahaya oleh otak kita. Hal yang wajar, karena orang menjerit cenderung saat mereka dalam bahaya.

Penelitian lain juga menemukan bahwa nada rendah dan tidak beraturan dapat membuat kita merasa terancam dan tidak nyaman. Sangat berbeda dengan musik melankolis yang justru membuat kita merasa nyaman dan lebih berempati pada karakter dalam sebuah film.
Jadi kenapa film horor terasa horor?
Tentu kita sudah tahu karena faktor visual dan cerita. Tapi penelitian membuktikan bahwa faktor musk tidak kalah pentingnya. Ini ada kaitannya dengan konsep priming pada psikologi.
Priming sendiri secara sederhana adalah sebuah konsep di mana paparan terhadap satu stimulus mempengaruhi respons kita terhadap stimulus yang muncul berikutnya.
Contoh sederhana priming adalah sebagai berikut:
Ketika Anda baru saja selesai berbelanja bahan makanan dan saya meminta Anda menebak kata berikut:
S___R
Maka besar kemungkinan, kata yang akan Anda sebut adalah SAYUR.
Namun, jika Anda baru saja selesai berolahraga dan saya meminta Anda menebak kata yang sama, kemungkinan besar Anda akan menyebutnya SEGAR.
Contoh ini menunjukkan bagaimana konteks atau pengalaman terakhir dapat mempengaruhi cara kita memproses dan menebak informasi, yang merupakan inti dari efek priming.
Nah, dalam konteks film horor, musik yang digunakan dapat mempriming otak kita untuk merasakan takut dan cemas. Musik adalah salah satu stimulus yang mempengaruhi respons kita.
Inilah yang membuat film horor terasa horor.
Referensi



Comments