top of page

Kenapa Kematian Membuat Orang Lebih Mudah Dimaafkan?

  • Writer: eko wahyudi
    eko wahyudi
  • Aug 19, 2024
  • 3 min read

Ada sebuah eksperimen di mana para peserta diminta untuk merendam tangan mereka di air dingin.


Di percobaan pertama, mereka diminta merendam tangan selama 90 detik di air dengan suhu 14 derajat celcius.


Di percobaan kedua, mereka diminta merendam tangan di air selama 90 detik dengan suhu yang sama (14 derajat celcius) dan ditambah 30 detik tapi di air dengan suhu 15 derajat celcius.


Lalu peserta ditanya, untuk percobaan ketiga, pilih yang mana? 90 detik di air dingin (14 derajat celcius )atau 90 detik di air dingin ditambah 30 detik di air dengan suhu 15 derajat celcius?


69% menjawab bahwa mereka memilih percobaan kedua: 90 detik di air 14 derajat dan ditambah dengan 30 detik di air dengan suhu 15 derajat.


Meski durasi percobaan kedua lebih lama, para peserta cenderung memilih pengalaman kedua sebagai yang lebih menyenangkan atau setidaknya lebih dapat ditoleransi.


Mereka lupa jika durasi keseluruhan pengalaman yang lebih lama seharusnya membuatnya terasa lebih tidak menyenangkan.


Namun, karena akhir dari pengalaman itu sedikit lebih nyaman, dengan air 15 derajat celcius, ini kemudian membuat mereka mengingat pengalaman tersebut dengan cara yang lebih positif


Fenomena ini dikenal dengan nama PEAK-END RULE. Apa itu Peak-End Rule?


Contohnya bisa dilihat dalam eksperimen yang melibatkan air dingin tadi. Meskipun peserta mengalami ketidaknyamanan lebih lama dalam percobaan kedua, karena diakhiri dengan air yang sedikit lebih hangat, mereka lebih memilih pengalaman itu karena ingatan mereka lebih dipengaruhi oleh momen akhir yang sedikit lebih nyaman.


Sebuah contoh nyata yang menunjukkan prinsip ini adalah apa yang dilakukan oleh The North Face dalam menanggapi keluhan pelanggan di TikTok.

Seorang wanita bernama Jenn Jensen memposting video yang menjadi viral, di mana dia kecewa karena jaket hujan yang dia beli dari The North Face tidak melindunginya dari hujan. Video itu bisa menjadi momen negatif puncak yang merusak citra merek tersebut.


Namun, The North Face menanggapi dengan cara yang sangat dramatis dan mengesankan.


Mereka menerbangkan jaket baru ke puncak gunung di New Zealand menggunakan helikopter dan memberikannya langsung kepada Jensen, menciptakan akhir yang sangat positif dan berkesan.



Ini adalah contoh bagaimana sebuah merek dapat menggunakan Peak-End Rule untuk mengubah potensi pengalaman negatif menjadi kenangan positif yang mendominasi ingatan pelanggan dan penonton.


Jadi, meskipun awalnya ada pengalaman negatif, momen akhir yang positif dan dramatis ini membantu menciptakan ingatan yang lebih baik tentang seluruh situasi tersebut.


Nah sekarang kita coba hubungkan Peak and End rule dengan memaafkan kesalahan orang yang sudah meninggal.


Kita anggap saja si B jahat ke kamu dan pada akhirnya dia meninggal. Sepanjang hidupnya, si B mungkin telah melakukan banyak hal yang membuatmu marah atau kecewa.

Kamu mengingat berbagai momen di mana dia berperilaku buruk atau menyakitimu. Namun, setelah dia meninggal, kenangan ini mulai berubah.


Dalam konteks ini, Peak-End rule berperan besar. Setelah si B meninggal, momen kematian tersebut sering menjadi 'akhir' (end) dari cerita hidupnya.


Kematian ini juga bisa dianggap sebagai momen puncak (peak) yang penuh emosi baik itu kesedihan, kehilangan atau bahkan refleksi.


Karena ini adalah akhir dari semua interaksi kita dengan dia, maka memori kia cenderung fokus pada momen ini dan menafsirkan kembali semua hubungan kita dengan B melalui lensa yang berbeda.


Mirip seperti eksperimen air dingin di mana rendaman 30 detik air dingin (15 derajat) akan membuat kita cenderung melupakan rendaman air dingin selama 90 detik. (14 derajat)


Inilah sebabnya mengapa kesalahan orang yang telah lebih mudah dimaafkan. Kematiannya adalah akhir cerita hidupnya (end) dengan emosi tertinggi (peak) yang mengalihkan fokus kita pada kesalahannya saat dia masih hidup.


Dengan kata lain, Peak-End Rule adalah sebuah pengingat bahwa setiap momen bisa mengubah seluruh cerita.


Pertengkaran bisa dianggap indah jika diakhiri dengan pelukan dan liburan melelahkan bisa jadi kenangan manis karena satu momen yang indah.


Semoga membantu. Terima kasih sudah membaca.


Referensi:

Comments


© 2024

bottom of page