Kenapa kita suka membuat skenario di dalam otak ketika kita dihadapkan dengan masalah?
- eko wahyudi
- Jun 25, 2024
- 2 min read

Pada tahun 2009, seorang pilot veteran bernama Chesley Sullenberger menghadapi situasi darurat saat menerbangkan pesawatnya.
Saat baru saja lepas landas, mesin pesawat kemasukan burung yang mengakibatkan pesawat mengalami gangguan.
Dengan ratusan nyawa sebagai taruhan , Chesley atau yang biasa dipanggil Sully, membayangkan berbagai macam skenarion dalam kepalanya seperti
Kembali ke bandara: Sully berpikir apakah mungkin memutar balik pesawat dan mendarat kembali ke bandara terdekat. Namun ketinggian pesawat terlalu rendah.
Mendarat di jalan raya: Dia juga mempertimbangkan untuk mendaratkan pesawat di jalan raya. Tapi dia bimbang karena jalan raya penuh dengan kendaraan.
Mendarat di sungai Hudson: Sungai Hudson adalah sungai terdekat dan Sully memikirkan untuk mendaratkan pesawat disini. Meskipun pilihan paling berbeda, Sully sadar jika pilihan ini lah yang paling masuk akal dan sedikit berisiko.
Dengan cepat dan tenang, Sully memutuskan bahwa mendarat di Sungai Hudson adalah pilihan terbaik untuk menyelamatkan nyawa semua penumpang dan awak. Keputusan ini berdasarkan visualisasi skenario yang telah dibayangkan dalam kepalanya. Kebiasaan ini merupakan bagian dari pengalamannya selama bertahun-tahun menjadi pilot.
Saat pesawat mendekati permukaan air yang tenang, Sully juga tetap tenang dan fokus menggunakan setiap detik yang ada untuk memastikan pendaratan berjalan lancar tanpa menimbulkan korban jiwa.

Dan Sully berhasil.Dia berhasil mendaratkan pesawat tersebut dengan aman. 155 penumpang selamat tanpa cedera serius. Kisah ini kemudian dikenal dengan nama :"Miracle on the Hudson"
Kisah diatas secara tidak langsung menunjukan bahwa otak kita memiliki kemampuan super untuk melakukan visualiasi mental, membayangkan berbagai skenario di masa depan. Visualisasi ini akan semakin ampuh jika si pemilik otak adalah orang yang berpengalaman seperti Sully yang merupakan pilot dengan pengalaman puluhan tahun.
Memang begini cara kerja otak kita. Otak akan membayangkan berbagai skenario terutama saat tahu sedang terancam. Ini bukan hanya membantu menemukan solusi atau sebagai bagian dari pertahanan diri tapi mengurangi rasa cemas dan meningkatkan kepercayaan diri.
Bahkan ada sebuah penelitian bola basket yang menemukan bahwa visualisasi yang kita lakukan memiliki dampak yang luar biasa pada kemampuan fisik kita.

Alan Richardson melakukan sebuah eksperimen dimana dia ingin mengetahui seberapa besar pengaruh visualisasi mental terhadap peningkatan ketrampilan fisik.
Richardson membagi peserta eksperimen dalam 3 kelompok dimana 3 kelompok ini akan diminta untuk melakukan free throw atau lemparan bebas. Tapi 3 kelompok tersebut melakukannya dengan cara yang berbeda.
Kelompok 1: Berlatih lemparan bebas di lapangan setiap hari selama 20 hari.
Kelompok 2: Tidak berlatih sama sekali selama 20 hari.
Kelompok 3: Tidak berlatih secara fisik, tetapi menghabiskan 20 menit setiap hari untuk memvisualisasikan diri mereka berhasil melakukan lemparan bebas.
Setelah 20 hari, Richardson mengukur kembali kemampuan lemparan bebas dari 3 kelompok tersebut.
Kelompok 1 menunjukan peningkatan paling signifikan
Kelompok 2 sama sekali tidak menunjukan peningkatan.
Kelompok 3 menunjukan peningkatan yang mendekati kelompok 1.
Agak susah dipercaya memang, tapi memang hasil penelitiannya seperti ini. Secara tidak langsung ini menunjukan bahwa visualiasi atau membuat skenario memiliki dampak positif yang lebih dari kita kira.

Kisah Sully dan eksperimen bola basket menunjukan bahwa visualiasi atau membayangkan skenario adalah hal yang manusiawi dan mungkin merupakan bagian dari pertahanan diri kita yang mampu meningkatkan kinerja kita secara fisik.
Jika lain kali anda menghadapi masalah dan anda mulai membayangkan beberapa skenario yang mungkin terjadi, maka ini bukanlah hal yang buruk.
Ini adalah bagian dari insting kita sebagai manusia untuk bertahan hidup dan meningkatkan kinerja.
Referensi



Comments