Kita Memang Menilai Buku dari Sampulnya: Mengenal Halo Effect
- eko wahyudi
- Jul 7, 2024
- 3 min read
Updated: Jul 8, 2024

Bayangkan anda sedang jalan-jalan ke mall. Di dalam mall anda melihat SPG mobil cantik yang mendekati anda untuk menawarkan mobil dagangannya.
Pakaiannya agak ketat. Dengan perawakannya yang langsing, maka pakaian ketat ini membuat tubuhnya elok bagai gitar spanyol. Kita sebut saja SPG cantik ini Bunga.
Anda sebenarnya tidak punya uang untuk membeli mobil namun tidak ada ruginya juga berkenalan dengan Bunga dan tentunya dia juga tidak tahu bahwa anda tidak punya uang untuk membeli mobil tersebut.
Anda: udah lama jadi SPG?
Bunga: Baru ni mas. buat cari penghasilan tambahan
Anda: ooh mank kerjaanys apa?
Bunga: Saya masih kuliah, ambil akuntansi di universitas anu sekarang masih semester akhir, lagi nyusun
Dari fakta bahwa dia bekerja sambil kuliah anda kemudian menyimpulkan bahwa Bunga adalah gadis yang pintar.
Padahal jika ditarik secara logika, mungkin tidak ada korelasinya antara pintar dengan kuliah sambil bekerja menjadi SPG mobil. Untuk tahu dia pintar atau tidak yang harus anda lihat adalah dalamannya Bunga yaitu IPK nya sebagai mahasiswi atau mungkin hasil test IQ nya.
Pengambilan kesimpulan hanya dari satu faktor disebut dengan “halo effect”.
Contoh lain adalah saat anda melihat orang yang berpenampilan menarik lalu berkesimpulan jika orang itu baik.

Salah satu eksperimen terkenal tentang halo effect dilakukan oleh psikolog Edward Thorndike pada tahun 1920. Dalam eksperimennya, Thorndike meminta perwira militer untuk menilai bawahan mereka berdasarkan berbagai atribut, seperti kepemimpinan, kecerdasan, dan penampilan fisik.
Hasilnya menunjukkan bahwa penilaian positif pada satu atribut cenderung mempengaruhi penilaian pada atribut lainnya, meskipun tidak ada hubungan langsung antara atribut-atribut tersebut.
Penelitian lain oleh Nisbett dan Wilson (1977) menunjukkan bahwa orang sering tidak menyadari pengaruh halo effect pada penilaian mereka. Dalam studi ini, peserta menonton video seorang profesor yang berbicara dengan aksen Prancis.
Ketika aksen tersebut dibuat menyenangkan, peserta cenderung menilai profesor tersebut lebih cerdas dan kompeten dibandingkan ketika aksen tersebut dibuat tidak menyenangkan.
Jadi karena halo effect, seseorang akan menilai kita dari satu faktor saja dan mungkin saja penilaian ini salah atau sama sekali tidak berkorelasi seperti menilai orang baik karena penampilannya menarik.
Beauty Privilege
Fenomena ini seringkali berkaitan erat dengan "beauty privilege," di mana orang yang dianggap menarik secara fisik cenderung mendapatkan perlakuan yang lebih baik dan lebih banyak peluang dalam berbagai aspek kehidupan.
Misalnya, penelitian menunjukkan bahwa orang yang menarik secara fisik sering dianggap lebih kompeten, lebih dipercaya, dan lebih sukses dibandingkan mereka yang dianggap kurang menarik.

Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Economic Psychology, orang yang menarik secara fisik memiliki peluang lebih besar untuk dipekerjakan dan mendapatkan gaji yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang penampilannya dianggap rata-rata.
Hal ini menunjukkan bahwa kesan pertama yang baik, didorong oleh penampilan fisik, dapat memberikan keuntungan yang signifikan dalam berbagai konteks termasuk mencari pekerjaan.
Babble Effect
Dalam bahasa Inggris, babble berarti berbicara banyak dengan cepat yang biasanya ditunjukan dengan "bla bla bla bla"
Babble effect sendiri adalah kondisi dimana orang yang lebih banyak berbicara cenderung dianggap sebagai pemimpin dalam sebuah kelompok terlepas dari apa yang dikatakan.
Ini erat kaitannya dengan Halo Effect karena keduanya melibatkan penilaian cepat berdasarkan satu faktor saja.
Sama seperti Halo Effect, di mana penampilan fisik dapat menyebabkan seseorang dianggap lebih kompeten atau sukses, Babble Effect menunjukkan bahwa frekuensi berbicara dapat mempengaruhi persepsi seseorang terhadap kepimpinannya terlepas dari bagus atau tidaknya apa yang disampaikan.
Aplikasi dalam kehidupan nyata
Mengingat manusia cenderung cepat mengambil kesimpulan hanya dengan melihat satu faktor, maka hal yang bisa kita lakukan untuk memanfaatkan ini adalah dengan memanfatkan "KESAN PERTAMA".
Kapanpun anda hendak bertemu seseorang dalam situasi yang cukup penting atau ingin menarik perhatian, maka buatlah kesan pertama yang kuat misal dengan berpenampilan semenarik mungkin atau dengan menggunakan parfum.

Jadi, jika anda ingin membuat kesan pertama yang kuat pada seseorang, pastikan untuk memanfaatkan halo effect dengan tampil menarik dan menggunakan parfum yang wangi atau hal lainya.
Namun, jangan terlalu percaya pada kesan pertama seperti contoh diatas, Bunga dianggap pintar hanya karena kuliah sambil bekerja sebagai SPG mobil, padahal belum tentu benar.
Orang bilang jangan menilai buku hanya dari sampulnya, tapi secara manusiawi manusia memang cenderung menilai buku dari sampulnya.
Tidak adil? Kata siapa dunia ini adil.
Referensi:



Comments