Mengapa semua orang merasa dirinya adalah korban?
- eko wahyudi
- Jun 28, 2024
- 2 min read

Kumbang bombardir adalah serangga kecil yang memiliki mekanisme pertahanan tubuh yang luar biasa. Saat terancam dia akan mengeluarkan semburan cairan panas yang mendidih dari tubuhnya.
Cairan ini bukan hanya panas tapi juga berbau menyengat yang mampu membuat predator mundur.
Apa yang dilakukan oleh kumbang bombardir disebut mekanisme pertahanan. Ada banyak binatang lain yang melakukan ini seperti cumi-cumi yang menyemprotkan tinta, landak yang menegakkan duri tajam atau ikan buntal yang mengembang menjadi bola berduri.
Ini adalah bentuk pertahanan diri alami.
Dalam sebuah penelitian dalam bidang olahraga ditemukan sebuah temuan menarik mengenai respon pelatih saat tim mereka menang dan kalah.
Saat tim menang, pelatih cenderung akan mengatakan jika kemenangan tersebut karena tim nya memang bermain sangat baik. Tapi saat timnya kalah, pelatih tidak mau mengakui jika timnya bermain buruk. Si pelatih akan cenderung menyalahkan faktor eksternal seperti cuaca, kondisi lapangan dan wasit yang tidak adil.

Apa yang dilakukan si pelatih saat dia kalah mirip dengan apa yang dilakukan kumbang bombardir. Keduanya sama-sama menerapkan mekanisme pertahanan diri.
Kumbang melakukannya dengan mengeluarkan semburan cairan panas dan beracun untuk menghindari predator. Pelatih menggunakan mekanisme psikologis untuk menghindari tanggung jawab dan melindungi harga dirinya dengan menjadikan dirinya korban dari keadaan seperti kondisi lapangan dan tindakan wasit.
Kondisi menyalahkan faktor eksternal atau menjadikan diri sebagai korban ini adalah hal yang wajar karena sekali lagi, ini merupakan cara kita melindungi diri.
Dengan menjadikan diri kita sebagai korban kita secara tidak langsung menunjuk jari ke orang lain bukan ke diri kita meskipun mungkin memang kita yang salah.
Ini disebut dengan SELF ATTRIBUTION BIAS.
Contoh sederhana adalah orang yang meminjam uang. Orang yang meminjam uang saat ditagih akan marah-marah ke pemberi pinjaman yang secara tidak langsung membuat kesan bahwa yang ditagih adalah korban.
Padahal jika pikir lagi, penagih justru adalah korban dan peminjam adalah pelaku. Kenapa? Karena pemberi pinjaman sudah memberikan bantuan tetapi justru diperlakukan tidak adil ketika mencoba menagih kembali uang mereka.
Ini adalah bentuk self-attribution bias di mana orang cenderung melihat diri mereka sebagai korban untuk menghindari tanggung jawab dan melindungi diri.
Jadi mengapa semua orang merasa dirinya adalah korban?
Sebagaimana binatang yang memiliki mekasnime untuk mempertahankan diri dari predator, manusia menjadikan diri korban juga untuk melindungi diri dan kadang juga menunjuk jari ke arah lain untuk melepaskan diri dari tanggung jawab.
Hal yang wajar dan manusiawi tapi salah.

Sumber:



Comments