Orang Akan Berubah Jika Ada Kenyataan Pahit Yang Mereka Harus Terima: Sebuah Cerita Tentang Kebiasaan Buang Air Besar.
- eko wahyudi
- Aug 30, 2024
- 4 min read

Di tahun 2016 ditemukan jika hampir 1 miliar masyarakat di dunia memiliki kesulitan mengakses air bersih dan ada 1 miliar juga masyarakat di dunia yang tidak memiliki akses ke toilet yang kemudian membuat mereka membuang kotoran di tempat terbuka(open defecation). Kita singkat saja dengan OD ya agar lebih mudah.
Nah, OD ini tentu tidak baik. Kenapa? Karena kotoran yang tersebar dimana-mana dapat menyebabkan berbagai penyakit.
Ini adalah sebuah masalah. Lalu apa solusinya?

Di sebuah area di bagian utara Bangladesh di tahun 1999, sebuah organisasi memberikan jamban.
Dan untuk memastikan bahwa jamban ini bekerja dengan baik yaitu mengurangi populasi kotoran di area terbuka, diutuslah Dr. Kamal Kar.
Dia pergi ke desa tersebut dan penemuannya ini lah yang akan menjadi awal dari cerita kita.
Dari luar, sepertinya program ini berhasil. Tapi ketika Dr. Kamal Kar, berjalan di desa dan masuk ke ladang-ladang, dia menemukan sesuatu yang mengejutkan: dia menginjak kotoran manusia dengan bau yang sangat menyengat.
Jadi meskipun jamban telah disediakan, orang-orang masih saja melakukan OD.

Parahnya lagi, ketikan hujan tiba dan membasahi desa, kotoran tersebut akan menyebar ke seluruh desa. Ini jelas membahayakan kesehatan penduduk desa.
Saat ditanya kenapa mereka tidak buang air di jamban, salah satu jawaban yang menarik adalah:
"Apa kamu yakin saya harus buang air besar di bangunan ini … yang bahkan lebih baik dari rumah saya?”
Dr. Kar menyadari bahwa masalah buang air besar di tempat terbuka bukanlah masalah "hardware" yaitu tidak tersedianya toilet, melainkan masalah perilaku. Sampai orang-orang di suatu daerah ingin berubah, "hardware" yang diberikan tidak ada artinya.
Dr. Kar kemudian membuat sebuah cara baru yang dia sebut CLTS ( Community-Led Total Sanitation)
Sederhanya CLTS hanya sebuah cara sederhana dengan mengirim seseorang ke desa yang mengalami OP untuk bertanya. Ya, hanya bertanya. Tidak ada lagi pemberian jamban yang terlihat lebih bagus dari rumah-rumah penduduk desa. Petugas dari CLTS hanya akan bertanya.
Kurang lebih begini skenarionya:

Petugas dari CLTS tiba di desa dan mulai mengumpulkan penduduk desa di sebuah tempat terbuka. Setelah semua berkumpul, petugas itu mulai berbicara dengan tenang,
“Di mana kalian biasanya buang air?” Penduduk desa, yang pada awalnya mungkin merasa ragu, akhirnya mulai menunjukkan tempat-tempat di sekitar desa di mana mereka biasanya buang air.
Petugas kemudian menunjuak sebuah kotoran yang baunya menyengat, menusuk hidung.
"ini kotoran siapa?" tanya petugas dengan sopan.
Semua terlihat bingung dan tidak ada yang menjawab. Mungkin karena malu. Tapi kotoran tersebut sama sekali tidak terliha malu.
Kemudian, petugas tersebut meminta mereka untuk menggambar peta desa di tanah, dan menandai semua tempat di mana mereka buang air dengan kapur kuning.
Sambil mereka menandai peta, penduduk desa mulai menyadari betapa banyaknya kotoran yang tersebar di seluruh desa.
Peta itu yang awalnya tampak biasa saja, kini dipenuhi dengan tanda kuning yang menggambarkan kotoran yang ada di setiap sudut desa.
Lalu si petugas bertanya lagi.
"jika misal kalian tiba-tiba kebelet ingin buang air besar, tapi ada hujan deras. Dimana kalian buang air besar?
Pertanyaan ini memicu gelak tawa dari penduduk, dan mereka mulai menandai lebih banyak area di peta dengan kapur kuning. Tanda-tanda ini sering kali mengelilingi rumah-rumah mereka—karena dalam situasi darurat, mereka tidak bisa mencapai area umum.
Pada titik ini, hampir seluruh desa telah ditutupi oleh tanda kuning di peta. Suasana mulai berubah; ada energi yang bergejolak di kerumunan: kecemasan, rasa jijik, kemarahan, dan rasa malu bercampur menjadi satu.
Mereka mulai menyadari bahwa desa mereka dipenuhi dengan kotoran, tetapi belum sepenuhnya memahami apa artinya.
Petugas tersebut kemudian meminta segelas air. Seorang wanita memberikannya, dan dia bertanya apakah dia merasa nyaman untuk meminumnya. Wanita itu menjawab ya.
Dia bertanya kepada yang lain, dan mereka setuju. Kemudian, dia menarik sehelai rambut dari kepalanya dan bertanya, “Apa yang ada di tanganku?” Sebuah rambut, jawab mereka. “Bisakah kalian melihatnya dengan jelas?”
"Tidak, tidak terlalu" jawab penduduk desa.
Si petugas berjalan ke tumpukan kotoran di dekat area pertemuan dan mencelupkan rambut itu ke dalamnya. Lalu dia memasukkan rambut kotor itu ke dalam gelas air dan mengaduknya.
Dia memberikan gelas itu kepada seorang penduduk dan memintanya untuk meminumnya. Pria itu menolak. Dia memberikan gelas itu kepada orang lain, tetapi mereka semua menolak.
“Kenapa kalian menolak?” tanyanya. “Karena air itu sudah terkontaminasi kotoran!” jawab mereka.
Petugas itu kemudian tampak bingung. Dia melanjutkan, “Berapa kaki yang dimiliki lalat?” Enam, jawab mereka. “Benar, dan semua kakinya bergerigi.
Apakah kalian pikir lalat mengumpulkan lebih banyak atau lebih sedikit kotoran daripada rambutku?
Lebih banyak, jawab mereka. “Apakah kalian pernah melihat lalat hinggap di makanan kalian?” Ya, jawab mereka. “Lalu, apakah kalian membuang makanan itu?” Tidak, jawab mereka. “Lalu, apa yang sebenarnya kalian makan?”
Pertanyaan ini menampar mereka dengan kenyataan yang tak terbantahkan.
Penduduk desa mulai menyadari bahwa mereka telah mengonsumsi makanan yang terkontaminasi kotoran selama ini. Atau bahasa kasarnya:
"They eat each other sh*t"
Pengalaman ini membuka mata mereka.
Tak ada lagi yang bisa menyangkal betapa mendesaknya masalah ini dan perlunya perubahan drastis untuk jangan buang air besar sembarangan.
Orang-orang kemudian tidak lagi buang air besar di tempat terbuka. Program CLTS mampu menurunkan tingkat terjadi nya OD menjadi hanya 1% dari yang awalnya 34%.
Cerita ini bagi saya sangat menarik karena dari sini saya sadar bahwa perubahan sejati sering kali dimulai dari kesadaran akan kenyataan yang tidak nyaman. Ketika kita dipaksa untuk melihat masalah yang selama ini kita abaikan atau anggap remeh, itulah saat di mana kita benar-benar terdorong untuk bertindak.
Contoh yang sangat berkaitan dengan kehidupan sehari-hari mungkin adalah kehidupan sebelum menikah dan setelah menikah kemudian memiliki anak. Sebelum menikah, kita mungkin lebih santai, tidak terlalu peduli dengan tanggung jawab besar, dan bisa jadi cenderung menunda-nunda hal-hal penting seperti menabung.

Namun, saat kita menikah dan memiliki anak, segalanya berubah. Tiba-tiba, ada orang lain yang bergantung pada kita, yang membutuhkan kita untuk menyediakan kebutuhan mereka.
Kenyataan ini bisa sangat mengejutkan, bahkan membuat kita merasa tidak nyaman sebagaimana penduduk di desa Bangladesh yang tiba-tiba harus menghadapi realitas pahit tentang kondisi sanitasi di sekitar mereka.
Kenyataan yang tidak nyaman ini membuat penduduk didesa tersebut berubah.
Kenyataan bahwa setelah menikah ada orang yang bergantung pada kita juga membuat kita berubah.
Kita mungkin mulai memperhatikan hal-hal yang sebelumnya kita abaikan: menabung lebih serius, memikirkan karier jangka panjang, atau bahkan mengubah gaya hidup agar lebih sehat dan aman bagi keluarga. Kenyataan bahwa kita sekarang bertanggung jawab atas kehidupan orang lain memicu perubahan yang mendalam dalam diri kita.
Seperti halnya penduduk desa yang akhirnya menyadari dampak dari buang air di tempat terbuka, kita juga sering kali perlu dihadapkan pada kenyataan pahit agar kita bisa menjadi lebih baik.
Referensi:



Comments