top of page

Kenapa Buku Motivasi Mengajak Kita Untuk Meninggalkan Zona Nyaman?

  • Writer: eko wahyudi
    eko wahyudi
  • Jun 13, 2024
  • 3 min read

Updated: Jun 24, 2024


Stephen King adalah salah satu penulis paling sukses di dunia dimana novelnya kebanyakan bergenre horor, fiksi ilmiah dan fantasi. Karyanya sendiri telah terjual lebih dari 350 juta kopi yang artinya melebihi jumlah penduduk Indonesia.



Jika anda tahu film It, maka ini adalah adaptasi dari novel karya Stephen King.

Selain It, salah satu karya Stephen King yang lain adalah Carrie. Novel ini sendiri menceritakan mengenai seorang gadis remaja bernama Carrie White yang memiliki kekuatan telekinesis.


Novel ini sukses besar tapi ada cerita unik dibalik penulisannya yang berhubungan dengan zona nyaman.



Di awal kariernya, King hanya bekerja sebagai guru bahasa Inggris di sekolah menengah. Meskipun itu bukan pekerjaan impiannya, ia merasa nyaman dan stabil di sana. Dalam rutinitasnya yang nyaman, King bisa menulis di waktu luangnya tanpa tekanan yang besar.


Nah, suatu hari King memutuskan untuk mengirimkan salah satu ceritanya ke penerbit. Awalnya ditolak. lalu direvisi lagi sampai akhirnya diterima. Cerita yang awalnya ditolak tersebut adalah Carrie.


Menariknya, Carrie ditulis saat King berada di zona nyamannya menulis saat masa masih menjadi seorang guru.




Beberapa penelitian sudah membuktikan jika bekerja dalam lingkungan yang nyaman baik fisik ataupun mental memang dapat membantu meningkatkan kreatifitas.


Lingkungan kerja yang nyaman dapat:

  • Mengurangi tingkat stress secara signifikan.

  • Meningkatkan fokus dan motivasi, sehingga produktivitas meningkat.


Lalu kenapa kita harus meninggalkan zona nyaman? Untuk mengilustrasikan ini, kita akan coba flashback penalti antara Spanyol vs Maroko di World Cup 2022 kemarin.

Pada pertandingan melawan Maroko, Spanyol gagal meraih kemenangan dan harus berhadapan melalui adu penalti.


Spanyol terlihat lebih tertekan dalam drama ini.




kenapa?



Terkait fenomena ini, ada yang disebut dengan hukum Yerkes-Dodson. Hukum ini menyatakan bahwa terdapat hubungan empiris antara stres dan kinerja, di mana ada tingkat stres optimal yang berhubungan dengan kinerja optimal. Hubungan ini biasanya digambarkan sebagai kurva berbentuk U terbalik.

kenapa?



Terkait fenomena ini, ada yang disebut dengan hukum Yerkes-Dodson. Hukum ini menyatakan bahwa terdapat hubungan empiris antara stres dan kinerja, di mana ada tingkat stres optimal yang berhubungan dengan kinerja optimal. Hubungan ini biasanya digambarkan sebagai kurva berbentuk U terbalik.




Lalu apa hubungannya dengan meninggalkan zona nyaman? Karena dengan meninggalkan zona nyaman, kita akan menghadapi tekanan yang dapat meningkatkan kinerja kita.


Tapi syaratnya tekanan itu harus berada di level yang pas. Nah ini yang susah. Bisa saja bukannya mendapatkan tekanan yang pas, kita malah mendapatkan tekanan yang berlebihan.


Jadi bagaimana sebaiknya? Jika sudah nyaman di zona saat ini dan merasa sudah cukup berkembang, ya sudah diam saja.


Secara ilmiah juga sudah terbukti jika orang yang bekerja di zona nyaman mereka bisa juga lebih produktif dan kreatif. Hanya karena kita nyaman belum tentu kita tidak bisa berkembang lagi.


Lalu kenapa buku-buku self development menyarankan kita untuk keluar dari zona nyaman kita?


Karena jika kita sudah nyaman, buku self-improvement tidak akan laku. Ini karena industri self-improvement bergantung pada perasaan tidak puas dan keinginan untuk perubahan yang ada dalam diri banyak orang.


Buku-buku ini sering kali menekankan pentingnya perubahan terus-menerus dan meninggalkan zona nyaman sebagai cara untuk mencapai kesuksesan dan kebahagiaan.


Namun, jika banyak orang merasa nyaman dan puas dengan kehidupan mereka, kebutuhan untuk membeli dan membaca buku self-improvement akan berkurang drastis.


Saya sendiri saat berada di zona nyaman dan tidak berniat untuk meninggalkan zona nyaman saya. Hidup memang butuh tekanan, tapi saya lebih membutuhkan rasa nyaman.


 
 
 

Comments


© 2024

bottom of page